Langsung ke konten utama

Pelantikan PAC GP Ansor Konang: Wasekjen PP GP Ansor Tekankan Pentingnya Kaderisasi dan Penguatan Kiai Kampung

 

Wasekjen PP GP Ansor, Sahabat Zulkarnain Mahmud (Foto: GP ANSOR KONANG)

Bangkalan, PAC GP Ansor Konang - Gerakan Pemuda (GP) Ansor Konang didorong untuk tidak sekadar aktif menjalankan program organisasi, tetapi juga memperkuat kaderisasi dan menjaga kedekatan dengan para kiai kampung. Pesan tersebut disampaikan Wasekjen PP GP Ansor, Sahabat Zulkarnain Mahmud, dalam momentum pelantikan PAC GP Ansor Konang, Minggu (13/09/26).

Dalam kesempatan tersebut, Wasekjen PP GP Ansor, Sahabat Zulkarnain Mahmud, menyampaikan sejumlah pesan penting kepada jajaran pengurus dan kader GP Ansor Konang yang baru dilantik.

Mengawali sambutannya, Zulkarnain Mahmud mengutip istilah yang pernah disampaikan Nusron Wahid bahwa menjadi kader Ansor cukup dengan “S2”, yakni,Sinten (siapa). Menurutnya, hal tersebut menggambarkan pentingnya memahami siapa diri kita, siapa yang menjadi bagian dari perjuangan, serta dari mana sanad perjuangan organisasi ini berasal.

Ia juga mengajak para kader untuk tidak selalu memandang kekuatan perjuangan dari bangsa atau negara lain. Menurutnya, jika melihat kembali sejarah, GP Ansor dan Nahdlatul Ulama memiliki sejarah perjuangan yang sangat kuat.

“Kita biasanya kagum pada Iran, tetapi sebetulnya kalau kita melihat ke belakang, Ansor dan NU itu lebih kuat daripada Iran,” tuturnya.

Ia kemudian mengingatkan kembali sejarah Resolusi Jihad, yang menjadi salah satu tonggak penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, perjuangan tersebut tidak terlepas dari keberanian para pemuda Ansor yang dengan keterbatasan persenjataan berani menghadapi kekuatan Inggris.

“Kita ingat Resolusi Jihad. Itu adalah kumpulan pemuda-pemuda Ansor tanpa senjata, tetapi berani berperang melawan Inggris,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta para kader untuk tidak pernah meremehkan orang-orang yang berkhidmat di lingkungan NU maupun GP Ansor. Sebab, menurutnya, sejarah perjuangan NU tidak hanya diwariskan oleh para ulama, tetapi juga oleh para pejuang dan syuhada yang telah mengorbankan jiwa dan raganya.

“Jangan remehkan yang berkhidmat di NU atau Ansor. Karena kalau bukan pendahulunya ada ulama, maka pendahulunya adalah pejuang-pejuang atau para syuhada,” pesannya.

Lebih lanjut, Zulkarnain mengingatkan agar berbagai program kerja GP Ansor tidak membuat kader melupakan akar perjuangan NU di tingkat paling bawah, khususnya keberadaan kiai kampung.

“Sahabat-sahabat boleh punya program kerja yang luar biasa, tetapi jangan lupa karena kita adalah NU. Jangan lupakan kiai kampung, karena akhir-akhir ini kiai kampung semakin dilupakan,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan kiai kampung merupakan salah satu kekuatan penting dalam menjaga keberlangsungan NU di tengah masyarakat. Karena itu, penguatan terhadap kiai kampung harus menjadi salah satu prioritas gerakan GP Ansor.

“Karena kalau kiai kampung lemah, maka NU akan lemah. Maka ini harus menjadi prioritas Gerakan Pemuda Ansor,” jelasnya.

Selain penguatan basis keumatan, ia menekankan bahwa kaderisasi harus menjadi sistem utama dalam tubuh GP Ansor. Setiap kepengurusan harus memastikan proses kaderisasi berjalan secara berkelanjutan agar organisasi memiliki generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan.

“S yang kedua adalah sistem. Utamanya adalah sistem kaderisasi. Maka kaderisasi ini harus dijalankan,” katanya.

Di akhir pesannya, Zulkarnain menegaskan bahwa GP Ansor merupakan organisasi kepemudaan yang memiliki sanad perjuangan yang kuat, yakni bersambung kepada para ulama dan para awliya.

“Ansor ini adalah organisasi kepemudaan yang sanadnya adalah ulama dan para awliya,” pungkasnya.


Mmt

Postingan Populer

Muktamar ke-35 NU Tetapkan Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA

Sahabat Qoyyim Mahsun Ingatkan Pengurus Ansor Konang Tak Hanya Mengurusi Internal Organisasi

Sembilan Ulama Terpilih sebagai Anggota AHWA Muktamar ke-35 NU